Delegasi Model United Nations FH UII Berhasil Meraih Juara 1 dalam Ajang ECOFEP 2026

Mahasiswa Fakultas Hukum Program Internasional (FH IP) Universitas Islam Indonesia (UII) baru saja membawa pulang prestasi yang membanggakan. Pada tanggal 12 April 2026, Delegasi Indonesia berhasil meraih juara pertama dalam ajang Kompetisi ECOFEP Model United Nations Session. Kompetisi ini pertama kali diselenggarakan oleh Fakulti Ekonomi dan Pengurusan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pesertanya berasal dari sepuluh negara yang terdiri dari Amerika Serikat, Singapura, Jepang, China, Rusia, Malaysia, Iran, Arab Saudi, Indonesia, hingga Vietnam.

Delegasi Indonesia yang berhasil menang terdiri atas Chelsea Chandany Rahman selaku ketua delegasi, serta anggota tim lainnya, yaitu M. Mustofa Bisri, Salwa Nabila, dan Muhammad Afaren Jahanshah. Tidak hanya membawa pulang gelar juara pertama, delegasi ini mendapatkan penghargaan sebagai 2nd Best Delegate.

Dalam simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut, delegasi Indonesia diberi peran sebagai negara anggota ASEAN sekaligus konsumen bahan bakar minyak (BBM) terbesar. Tantangan yang mereka hadapi cukup jelas, yaitu subsidi dan inflasi. Dalam sidang, delegasi Indonesia menyuarakan bahwa krisis di Asia Barat sebenarnya merupakan tanggung jawab global, bukan hanya urusan negara-negara di kawasan tersebut. 

Mereka juga mengajukan resolusi mengenai kemandirian energi yang akan mulai diterapkan pada pertengahan tahun 2026. Poin-poin resolusi yang disampaikan antara lain menghentikan impor BBM, memperkuat kilang dalam negeri, menerapkan pajak ekspor untuk program bantuan langsung tunai (BLT) dan pembayaran utang, serta melakukan transisi dari B40 ke B50 untuk bahan bakar balap dan transportasi laut. Di sisi lain, Indonesia juga bergabung dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura dalam resolusi Strategic Petroleum and Alternative Fuel Reserve.

Selain itu, waktu persiapan yang mereka miliki hanya sekitar satu bulan. Namun, mereka baru dapat fokus secara intensif beberapa hari menjelang lomba. Waktu tersebut digunakan untuk berdiskusi bersama antar anggota tim. Meskipun persiapan terbilang berdekatan dengan waktu kompetisi, kekompakan tim terbukti menjadi modal utama delegasi Indonesia. 

Tak hanya waktu yang berdekatan, tantangan lain yang delegasi Indonesia hadapi adalah tampil berbicara di depan umum, di atas panggung, dengan banyak pasang mata yang memperhatikan. hal tersebut dapat membuat ketakutan hingga rasa cemas sehingga dapat merusak isi pidato atau membuat waktu bicara melebihi batas yang ditentukan. Sebagai ketua delegasi, Chelsea memiliki trik tersendiri, yaitu sebelum sesi dimulai, dia menarik napas dalam-dalam, mengosongkan pikiran, lalu berdoa. Cara ini cukup sederhana tetapi terbukti ampuh.

Hingga saat ini, ketua delegasi masih tidak percaya bahwa timnya mampu mengalahkan peserta lain padahal banyak di antara mereka merupakan mahasiswa program doktor (S3) atau magister (S2). “Jangan takut untuk tampil, berani ikut kompetisi, dan jangan terlalu memikirkan kemungkinan kalah. Tips terakhir dari saya adalah saling percaya kepada anggota tim sendiri. Kebersamaan dan rasa percaya itulah pondasi utama untuk meraih prestasi di kancah internasional,” pungkasnya.