[KALIURANG]; Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Tim Delegasi Mahasiswa Program Studi Hukum Bisnis Program Sarjana (PSHBPS) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII), yaitu Fatimah Nada (23411047) dan Dinda Ratu Nur Fatimah.RH (23411048) berhasil lolos pada babak penyaringan yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom, dalam ajang kompetisi persidangan dengan skema internasional yaitu Intellectual Property Moot Court Competition (IP MCC) yang diselenggarakan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO).

IP MCC yang diselenggarakan oleh WIPO merupakan ajang kompetisi yang berfokus dalam bidang hukum hak kekayaan intelektual, hak paten, merek dagang, desain industri dan rahasia dagang. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 200 mahasiswa hukum di berbagai negara seperti Indonesia, India, dan Afrika, para peserta akan diuji dengan kemampuan advokasi, menyampaikan argumen, dan mempresentasikan kasus di hadapan juri.  Nada dan Dinda berhasil melalui serangkaian tahapan kegiatan mulai dari proses pemberkasan pada Oktober 2025, hingga babak penyaringan yang dilakukan secara daring (30/04/2026).

Selama proses Nada dan Dinda mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan hal baru dan pengalaman yang sangat berkesan bagi keduanya, mereka menuturkan bahwa rangkaian kegiatan tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan dan bantuan dari para dosen pembimbing, tenaga pendidik, serta fasilitas FH UII yang sangat menunjang selama berlangsungnya kompetisi.

Tantangan selama kegiatan tentu dirasakan oleh tim delegasi, mulai dari panjangnya rangkaian kegiatan, sulitnya membagi waktu, proses pemberkasan yang membutuhkan waktu lama, hingga seluruh rangkaian kompetisi dilakukan dengan berbahasa inggris, hal tersebut dirasakan oleh Nada dan Dinda Case yang diberikan kepada kami jauh lebih complicated dan menjadi tantangan tersendiri”, namun disisi lain mereka bersyukur berkesempatan untuk bertemu lawan yang kompetitif, juri yang sangat kompeten, sehingga mendorong dan menumbuhkan motivasi mereka untuk terus berprestasi.

Terakhir Nada menyampaikan pesan bagi teman-teman mahasiswa FH UII untuk ikut termotivasi mengikuti berbagai macam kompetisi “Teman-teman yang tertinggal semangat untuk mengejar ketertinggalannya dan teman-teman yang sudah di depan semangat untuk mempertahankan dan konsisten kedepannya.” (DAE)

[KALIURANG]; Rangkaian seleksi penilaian Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan (DPK) telah selesai dilaksanakan. 

Rangkaian kompetisi PILMAPRES UII diselenggarakan setiap satu tahun sekali dan dimulai pada tanggal 1 Januari 2026 hingga 14 Maret 2026. Tahapan seleksi dilaksanakan dengan mekanisme kombinasi, terdiri dari tahapan administrasi sebagai tahap awal yang dilakukan secara daring, hingga tahapan final yakni presentasi dan wawancara yang dilakukan secara luring.

Dimas Saputra (23410348) sebagai peraih Juara 1 PILMAPRES UII Tahun 2026 pada Selasa (14/04/2026) perwakilan dari Fakultas Hukum (FH) UII telah berhasil melalui serangkaian kompetisi yang cukup panjang. Rangkaian kompetisi tersebut melibatkan 3 komponen yang bersifat kumulatif dan menjadi prasyarat untuk mendaftar PILMAPRES, antara lain adalah Komponen Gagasan Kreatif, Komponen Capaian Unggulan, dan Komponen Bahasa Inggris. Setiap komponen memiliki juri masing-masing, pada seleksi gagasan kreatif dinilai oleh juri Ikrom Mustofa, S.Si., M.Sc., pada seleksi capaian unggulan jurinya adalah Hazhira Qudsyi, S.Psi., MA., dan pada seleksi bahasa inggris adalah Intan Pradita, S.S., M.Hum.

Penilaian kompetisi PILMAPRES tidak hanya berfokus pada aspek akademik berupa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semata, melainkan juga mencakup capaian unggulan seperti prestasi kompetisi yang diraih, publikasi ilmiah, kontribusi dalam organisasi, serta dampak nyata yang dihasilkan dari kegiatan yang diikuti. 

Selain itu, terdapat penilaian presentasi gagasan kreatif yang dilakukan dalam bentuk pemaparan ide secara sistematis mengenai kebaruan ide dan seberapa bermanfaat implementasinya. Pada komponen gagasan kreatif, peserta dituntut untuk tidak hanya memahami ide secara konseptual, tetapi juga secara praktis dan aplikatif. 

Pada komponen capaian unggulan, terdapat batasan maksimal 10 (sepuluh) capaian yang dapat dilampirkan. Kategori tersebut meliputi kompetisi, publikasi, penghargaan, atau partisipasi lainnya dengan ketentuan setiap kategori hanya dapat diisi maksimal 4 (empat) capaian. 

Dengan kata lain, PILMAPRES melihat mahasiswa secara utuh, tidak hanya sebagai individu yang unggul akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif, produktif, dan dapat memberikan kontribusi bagi lingkungan di sekitarnya.

Bagi Dimas, proses persiapan Mahasiswa Berprestasi bukan sesuatu yang instan, namun menjadi proses yang dibangun sejak awal perkuliahan. Beberapa hal yang Dimas lakukan yakni, menjaga capaian akademik tetap optimal sebagai langkah pertama. Kedua, aktif mengikuti berbagai kompetisi, forum ilmiah, hingga kegiatan organisasi untuk memperluas pengalaman. Ketiga, membiasakan diri untuk membaca, menulis, dan melakukan kajian agar terbiasa berpikir kritis juga solutif. Keempat, meningkatkan kemampuan bahasa inggris secara bertahap. Kunci utama Dimas adalah konsistensi, kemauan untuk terus belajar, serta keberanian untuk mencoba berbagai peluang yang ada. 

“Tentu saya merasa sangat bersyukur atas capaian ini. Namun di sisi lain, saya juga menyadari bahwa ini bukan sekadar pencapaian personal, melainkan sebuah amanah yang membawa tanggung jawab lebih besar. Perasaan bangga yang ada justru saya maknai sebagai motivasi untuk berkembang, menjaga konsistensi, dan memberikan kontribusi yang lebih luas, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat,” ungkap syukur Dimas.

Dimas juga mengungkapkan bahwa pengalaman PILMAPRES ini sangat berharga. Menurutnya kegiatan ini menantang karena menguji kemampuan akademik, ketahanan diri, konsistensi, serta cara berpikir yang lebih strategis. Dimas menyebut bahwa prosesnya menantang dan menjadi letak pembelajaran sebenarnya. 

“Pesan saya untuk teman-teman sekalian, jangan ragu untuk mencoba. Mulailah dari apa yang dimiliki, terus kembangkan potensi diri, dan berani keluar dari zona nyaman. Pada akhirnya, proses yang dijalani akan jauh lebih bermakna daripada sekadar hasil akhir,” pungkas Dimas. (DVP)

Mahasiswa Fakultas Hukum Program Internasional (FH IP) Universitas Islam Indonesia (UII) baru saja membawa pulang prestasi yang membanggakan. Pada tanggal 12 April 2026, Delegasi Indonesia berhasil meraih juara pertama dalam ajang Kompetisi ECOFEP Model United Nations Session. Kompetisi ini pertama kali diselenggarakan oleh Fakulti Ekonomi dan Pengurusan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pesertanya berasal dari sepuluh negara yang terdiri dari Amerika Serikat, Singapura, Jepang, China, Rusia, Malaysia, Iran, Arab Saudi, Indonesia, hingga Vietnam.

Delegasi Indonesia yang berhasil menang terdiri atas Chelsea Chandany Rahman selaku ketua delegasi, serta anggota tim lainnya, yaitu M. Mustofa Bisri, Salwa Nabila, dan Muhammad Afaren Jahanshah. Tidak hanya membawa pulang gelar juara pertama, delegasi ini mendapatkan penghargaan sebagai 2nd Best Delegate.

Dalam simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut, delegasi Indonesia diberi peran sebagai negara anggota ASEAN sekaligus konsumen bahan bakar minyak (BBM) terbesar. Tantangan yang mereka hadapi cukup jelas, yaitu subsidi dan inflasi. Dalam sidang, delegasi Indonesia menyuarakan bahwa krisis di Asia Barat sebenarnya merupakan tanggung jawab global, bukan hanya urusan negara-negara di kawasan tersebut. 

Mereka juga mengajukan resolusi mengenai kemandirian energi yang akan mulai diterapkan pada pertengahan tahun 2026. Poin-poin resolusi yang disampaikan antara lain menghentikan impor BBM, memperkuat kilang dalam negeri, menerapkan pajak ekspor untuk program bantuan langsung tunai (BLT) dan pembayaran utang, serta melakukan transisi dari B40 ke B50 untuk bahan bakar balap dan transportasi laut. Di sisi lain, Indonesia juga bergabung dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura dalam resolusi Strategic Petroleum and Alternative Fuel Reserve.

Selain itu, waktu persiapan yang mereka miliki hanya sekitar satu bulan. Namun, mereka baru dapat fokus secara intensif beberapa hari menjelang lomba. Waktu tersebut digunakan untuk berdiskusi bersama antar anggota tim. Meskipun persiapan terbilang berdekatan dengan waktu kompetisi, kekompakan tim terbukti menjadi modal utama delegasi Indonesia. 

Tak hanya waktu yang berdekatan, tantangan lain yang delegasi Indonesia hadapi adalah tampil berbicara di depan umum, di atas panggung, dengan banyak pasang mata yang memperhatikan. hal tersebut dapat membuat ketakutan hingga rasa cemas sehingga dapat merusak isi pidato atau membuat waktu bicara melebihi batas yang ditentukan. Sebagai ketua delegasi, Chelsea memiliki trik tersendiri, yaitu sebelum sesi dimulai, dia menarik napas dalam-dalam, mengosongkan pikiran, lalu berdoa. Cara ini cukup sederhana tetapi terbukti ampuh.

Hingga saat ini, ketua delegasi masih tidak percaya bahwa timnya mampu mengalahkan peserta lain padahal banyak di antara mereka merupakan mahasiswa program doktor (S3) atau magister (S2). “Jangan takut untuk tampil, berani ikut kompetisi, dan jangan terlalu memikirkan kemungkinan kalah. Tips terakhir dari saya adalah saling percaya kepada anggota tim sendiri. Kebersamaan dan rasa percaya itulah pondasi utama untuk meraih prestasi di kancah internasional,” pungkasnya.

[KALIURANG]; Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) Kembali menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara 2 dalam kompetisi Legal Review Alsa Elexion Univesitas Gadjah Mada 2025 yang diselengarakan oleh Asian Law Students’ Association (ALSA) Local Chapter Universitas Gadjah Mada (UGM). Kompetisi kali ini mengangkat tema “Keberlanjutan Lingkungan dan Tantangan Regulasi Greenwashing dalam Industri Kendaraan Listrik di Indonesia”, sebuah tema yang relevan dengan isu lingkungan dan regulasi hukum nasional.

Tim yang beranggotakan Hilmy Mursi (23410492) selaku Ketua Tim, bersama anggota Ariq Faiq Muyassar (23410459) dan Virginia Khairunnisa Saragih (23410287). Perjalanan tim menuju tangga juara melalui proses yang cukup panjang. Dimulai dari registrasi pada 29 Agustus 2025, tim melanjutkan dengan tahap pemberkasan dan penyusunan naskah selama kurang lebih satu bulan, hingga akhirnya berhasil menembus babak final pada awal September dan menerima pengumuman kemenangan pada 18 Oktober 2025.

Dalam kompetisi yang bertema lingkungan tersebut, tim ini mengusung karya tulis berjudul “Analisis Kesenjangan Regulasi Environmental, Social, and Governance (ESG) Industri Kendaraan Listrik di Indonesia dan Implikasinya terhadap Keberlanjutan Industri.”

Berdasarkan wawancara, Hilmy Mursi atau yang akrab disapa Hilmy, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa gagasan utama tim berfokus pada identifikasi celah regulasi yang ada.

“Kami difokuskan kepada apa sih kesenjangan dari ESG pada segi hulu dan hilirnya, serta apa implikasi kesenjangan tersebut pada keberlanjutan industri kendaraan listrik di Indonesia,” ujar Hilmy.

Tantangan dan dinamika dirasakan oleh tim karena persiapan dilakukan bertepatan dengan masa liburan dengan pembagian tugas yang efektif, mulai dari riset hingga latihan presentasi. Hilmy dan Faiq mengakui tantangan terbesar adalah menyatukan tiga pemikiran berbeda agar satu tujuan, yang akhirnya teratasi lewat diskusi intensif.

Sementara itu, Nisa menekankan pentingnya menjaga kesabaran dan profesionalisme saat kelelahan melanda. Menurutnya, seluruh proses pengerjaan berkas justru mengasah keterampilan menulis dan public speaking mereka hingga akhirnya kerja keras tersebut terbayar lunas saat pengumuman juara.

Tim delegasi ini berpesan ingin menularkan semangat berprestasi kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya. Motivasi utama mereka mengikuti kompetisi adalah untuk mengukur kemampuan diri di luar lingkungan kampus.

“Jangan terjebak di zona nyaman kampus. Selagi masih menjadi mahasiswa, kita harus mengeksplorasi apa yang ada dan mencari pengalaman di luar yang tidak didapatkan di dalam kelas,” pesan Hilmy dan Faiq secara senada.

Menutup keterangannya, Nisa memberikan pesan optimisme bagi mahasiswa FH UII. “Jangan takut untuk mencoba, jangan bergantung pada orang lain, tetap percaya diri, optimis, dan jangan putus asa,” pungkasnya. (MFHH)

[KALIURANG];Prestasi membanggakan kembali diukir oleh mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) di kancah nasional. Delegasi FH UII berhasil lolos dan tampil sebagai presenter dalam Konferensi Nasional yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pengajar dan Praktisi Hukum Ketenagakerjaan Indonesia (P3HKI) di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, pada Senin, 21 Oktober 2024.

Tim yang mewakili Administrative Legal Studies (ALS) FH UII ini beranggotakan M. David Hanief (22410457) sebagai Penulis Pertama dan Rama Hendra Triadmaja (22410456). Keberhasilan mereka menjadi sorotan karena keduanya merupakan presenter termuda dalam ajang tersebut, bersaing dengan para akademisi dan praktisi hukum senior dari berbagai kampus di Indonesia.

Konferensi P3HKI merupakan forum tahunan yang mengangkat isu-isu aktual seputar Hukum Ketenagakerjaan. Tim delegasi UII memulai proses seleksi dengan mengirimkan abstrak, yang kemudian dinyatakan lolos untuk dilanjutkan ke tahap pengiriman full paper.

Dari sekitar 60 lebih paper yang terkumpul dari berbagai Fakultas Hukum di seluruh Indonesia, termasuk Medan hingga Sulawesi, paper tim UII menjadi salah satu yang terpilih untuk dipresentasikan. Karya ilmiah yang mereka bawakan berjudul “Urgensi Prinsip Wasathiyyah dalam Hukum Ketenagakerjaan Indonesia: Antara Disrupsi Teknologi dan Job Availability”.

David Hanief menyampaikan keterkejutannya saat presentasi: “Kami terkejut karena kami merupakan salah satu presenter termuda waktu itu, karena kami masih semester 5, sedangkan rata-rata yang lain sudah lulus atau setidak-tidaknya sedang menulis skripsi. Kami mendapat apresiasi juga dari P3HKI.”

Setelah sesi presentasi, paper tim UII menjalani tahapan revisi dan peninjauan kembali oleh para reviewer yang terdiri dari Pengajar dan Praktisi Hukum Ketenagakerjaan. Hasilnya, dari total sekitar 60 paper yang dikumpulkan, hanya 23 jurnal yang dinyatakan lulus untuk dipublikasikan. Jurnal ilmiah karya M. David dan Rama dipastikan lulus publikasi pada Desember 2024. “Diterbitin buku itu sangat luar biasa bagi kami berdua, ini merupakan buku pertama,” ungkap M. David dengan rasa syukur atas pencapaian yang juga menjadi publikasi ilmiah perdana mereka.

Keberhasilan tim ini tak lepas dari peran dosen Hukum Ketenagakerjaan, Ibu Ayunita, yang juga merupakan Dewan Pembina ALS. Beliau memberikan informasi mengenai Call For Papers dan aktif mendampingi proses penulisan.

Selama presentasi di UNPAR, tim UII juga sukses menarik perhatian peserta non-Muslim terkait tema yang mereka angkat. “Pada saat mempresentasikan, kami mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-teman yang non-Muslim terkait prinsip wasathiyyah dan ternyata mereka antusias,” jelas M. David.

Menutup keterangannya, M. David menyampaikan pesan inspiratif kepada rekan-rekan mahasiswa.

“Saya harap teman-teman berani mencoba. Karena menulis itu intinya memulai dari satu huruf sampai jadi paragraf. Dasar yang pertama kuatkan niat, kedua berani mencoba, ketiga yang terpenting adalah mampu istiqomah. Apabila tulisan kita dikritik, maka balas dengan tulisan yang lebih baik lagi.”

Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi FH UII tetapi juga menunjukkan semangat kompetitif dan kontribusi mahasiswa UII dalam diskusi keilmuan berskala nasional. (FTHA)

[KALIURANG]; Prestasi gemilang kembali diukir oleh mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam ajang UNESA 5 Law Fair (U5LF) 2025 dengan mengangkat tema “The Welfare of the People is The Supreme Law” yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya pada Sabtu, 20 September 2025 silam. Adapun tim dari FH UII terdiri atas Raihan Restu Putra (24410188), Nisrina Hanif Fadhila (22410228), dan Muhammad Rifqi Firdaus (22410887) yang tergabung dalam delegasi tim debat dan meraih juara 3 cabang lomba debat.

Dalam wawancaranya, Rifqi menyampaikan bahwa lomba debat kali ini sedikit berbeda dari lomba debat biasanya karena babak penyisihan dilakukan dengan lomba essay. “Kita mengambil (sub tema) hukum dan hak asasi manusia yang dimana kita ngambil salah satu kasus dari aparat penegak hukum, yaitu seorang polisi yang menembak seorang siswa SMK di Semarang dimana ia menyalahgunakan senjata api. Sebagai solusi, kita mengadopsi weapon system programming,” jelas Rifqi.

Melalui babak penyisihan yang ketat tersebut, tim delegasi FH UII berhasil lolos menuju babak round robin. Tantangan yang mereka alami dalam menjalani babak ini adalah mosi debat baru dirilis saat akan bertanding dan mereka hanya diberi waktu 20 (dua puluh) menit untuk melakukan case building.

Ketika ditanya mengenai motivasi mengikuti lomba, Nisrina menjadikan lomba ini sebagai ajang untuk menciptakan pengalaman baru di dunia perkuliahan. Di samping itu, Raihan turut membagikan perasaannya, “Sebenernya ingin merasakan offline-nya itu. Gimana rasanya berdebat secara langsung dilihat oleh juri dan berhadapan langsung dengan lawan.” Rifqi pun turut menguatkan apa yang telah disampaikan oleh Nisrina dan Raihan.

Pada akhir wawancaranya, tim debat ini mengutarakan pesan, khususnya kepada mahasiswa FH UII yang lain, bahwa mengikuti lomba debat dapat meningkatkan potensi diri ke kemampuan yang sebelumnya tidak pernah diduga. Terlebih lagi, lomba debat dapat memperluas pengetahuan dan pemahaman tentang isu-isu publik yang mungkin tidak banyak didapatkan di ruang kelas.

“Menurutku debat seasik itu loh karena kita di ajang debat akan dites untuk mengeluarkan argumentasi. Jangan takut. Debat itu enggak semengerikan yang di layar. Mungkin orang cerita debat itu serem karena argumen kita akan dibidas oleh lawan, tapi di lapangan ketika kita dibidas maka otak kita akan lebih jalan dibanding sebagaimana umumnya,” pungkas Nisrina.

BANGI, Malaysia (2 November 2025) – Semangat kolaborasi internasional dan keunggulan budaya bersinar terang ketika Abi Abdullah, mahasiswa mobilitas dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII), dengan bangga mewakili UII dalam ASEAN Art Festival ke-8 tahun 2025 (UKM ARTSEAN) yang diselenggarakan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada 29 Oktober – 3 November 2025.

Festival yang mengusung tema “Diversity in Rhythm and Heritage” (Keberagaman dalam Irama dan Warisan) ini diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari seluruh kawasan ASEAN dan negara-negara lainnya, termasuk delegasi dari Thailand, Kamboja, Vietnam, Indonesia, Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, serta peserta khusus dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Prancis, Kanada, Kazakhstan, dan Bangladesh.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh UKM University Cultural Centre, UKM Artisukma, Againstar Sdn. Bhd., serta Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) bekerja sama dengan Ministry of Tourism, Arts and Culture Malaysia (MOTAC). Festival tersebut menjadi wadah yang semarak untuk pertukaran budaya, kolaborasi kreatif, dan ekspresi seni lintas negara.

Mewakili FH UII, Abi Abdullah menampilkan kreativitas dan ekspresi budaya yang luar biasa, sehingga berhasil meraih Art Award (Penghargaan Seni) atas kontribusi istimewanya selama acara berlangsung. Prestasi ini mencerminkan komitmen UII dalam menumbuhkan mahasiswa berwawasan global yang mempromosikan perdamaian, persatuan, dan saling pengertian antarbudaya melalui seni.

“Penghargaan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga cerminan dari visi UII untuk membangun jembatan kolaborasi dan saling pengertian antarbangsa melalui budaya dan kreativitas,” ujar Abi.

Selama lima hari pelaksanaan festival, para peserta mengikuti beragam kegiatan seperti lokakarya tari ASEAN, lomba menyanyi lagu Melayu ASEAN, serta kunjungan budaya ke Mah Meri Cultural Village dan Museum Nasional Malaysia. Seluruh kegiatan tersebut mempererat hubungan antar peserta sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap warisan dan keberagaman budaya ASEAN.

Keikutsertaan FH UII dalam ajang internasional ini menegaskan upaya berkelanjutan universitas dalam memperluas mobilitas internasional, diplomasi budaya, dan keunggulan akademik, sekaligus memperkuat posisi UII sebagai kontributor aktif dalam komunitas akademik dan budaya global.

[KALIURANG]; Prestasi membanggakan kembali diukir oleh mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) di kancah nasional. Tim delegasi UII berhasil menyabet gelar Juara 3 Legal Opinion Competition dalam kompetisi Trisakti Business Law Fair III yang diselenggarakan oleh Universitas Trisakti.

 

Tim yang mewakili Business Law Community (BLC) FH UII ini benar-benar solid. Farhan F. Putra (22410819) bertindak sebagai ketua tim, memimpin rekan-rekannya. Dua anggota lainnya yang tak kalah hebat adalah Marvineta Tsabitah N.A. (22410590) dan Putri Citra Kemuning (22410584). Kombinasi kerja sama mereka membuat delegasi BLC FH UII siap tempur dan optimis bawa pulang hasil terbaik pada kompetisi ini.

Farhan F. Putra, sebagai salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka didasari oleh semangat untuk melanjutkan tradisi kompetisi yang selama ini rutin diikuti oleh BLC FH UII.

“Kebetulan BLC FH UII juga rutin mengikuti kompetisi ini. Saat mendapatkan undangan dari TBLF Trisakti, kami rasa ini adalah kesempatan bagi kami untuk melanjutkan tradisi kompetisi BLC FH UII di TBLF dan juga momentum yang tepat untuk mencari pengalaman dan menggali ilmu melalui kompetisi TBLF III ini,” jelas Farhan.

Persiapan tim untuk kompetisi ini tidak instan. Mereka memulai segala sesuatunya sejak awal bulan Juni, terutama dalam menyelesaikan berkas administrasi dan persyaratan seperti surat keterangan delegasi dan slip pembayaran registrasi lomba.

Kemenangan ini disambut dengan rasa senang dan bangga oleh seluruh tim. Kebahagiaan tersebut tidak hanya dirasakan karena meraih gelar juara, tetapi juga karena berhasil berbagi pengalaman dan ilmu, serta yang paling utama, membawa dan mengharumkan nama baik FH UII dan BLC FH UII di kancah nasional.

Namun, perjalanan menuju juara tentu tak lepas dari tantangan. Farhan mengakui bahwa tantangan terbesar mereka adalah pada fase pemberkasan materi. “Kebetulan materinya tentang pemanfaatan Ruang Bawah Tanah yang bagi kami masih cukup asing. Tapi alhamdulillah berkat riset yang konsisten dan bantuan dari berbagai pihak, kami bisa memberikan hasil terbaik kami selama pemberkasan,” ungkapnya. Materi yang terbilang baru ini justru memicu semangat mereka untuk melakukan riset mendalam, yang pada akhirnya menjadi kunci kekuatan esai mereka.

Menurut Farhan, kunci keberhasilan mereka dalam meraih juara adalah gabungan dari faktor internal dan eksternal. Dari faktor internal, yang paling utama adalah rasa semangat dan konsisten dalam riset. Sementara itu, dukungan eksternal juga memegang peranan krusial. “Dukungan eksternal layaknya bimbingan dari Dosen FH UII, Advisors BLC FH UII, dan tentunya dukungan finansial dari FH UII kami rasa menjadi satu kesatuan di balik keberhasilan kami,” tegasnya. Sinergi antara kerja keras mahasiswa dan support system institusi terbukti melahirkan prestasi maksimal.

Farhan menyampaikan pesan inspiratif bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya “Intinya semua perjuangan tidak ada yang sia-sia sih. Memenangkan kompetisi itu bonus saja. Justru yang paling berharga itu pengalaman dan ilmu yang didapatkan selama proses perlombaan,” tutupnya. (YSHA)

[KALIURANG]; Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali bersuka cita atas prestasi yang diukir para mahasiswa dalam kompetisi hukum di bidang kepenulisan berskala nasional. Elang Putra Haninggar (22410048) dan Rafi Firoos Muhammad Utyan (23410292) tergabung dalam satu tim berhasil membawa Juara 2 Legal Opinion Competition dalam kegiatan Sunan Ampel Legal Competition 2025 yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Pada ajang kompetisi yang sama, tim lain yang terdiri atas Anang Fajri Perdana (23410784) dan Muhammad Alif Ahsan (23410692) turut meraih Juara 3 Legal Opinion Competition.

Berdasarkan wawancara, Elang Putra Haninggar atau yang akrab disapa Elang, selaku perwakilan tim, menyampaikan perjalanan dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba mulai dari sesi pemberkasan, latihan presentasi, hingga pelaksanaan lomba. Perjalanan tersebut tentunya tidak selalu berjalan mulus.

Ketika ditanya mengenai motivasi mengikuti lomba, Elang mengatakan bahwa sebenarnya tidak terdapat motivasi yang terlalu mendalam. “Mungkin fomo kali ya. Sebelumnya saya dan tim pernah mengikuti lomba tapi belum dikasih juara. Kemudian kami mencari-cari lomba apa yang bisa diikuti dan alhamdulillah dikasih rezeki untuk menang di lomba legal opinion ini.”

Meskipun mengalami lika-liku dalam menjalani tahapan perlombaan, Rafi Firoos Muhammad, selaku partner satu tim dengan Elang, mengungkapkan rasa syukurnya karena mereka senantiasa dibersamai oleh berbagai pihak yang turut membimbing dan membantu. “You’ll never walk alone, dalam dalam lomba ini benar-benar membuka kan mata saya dan hati saya bahwa selalu ada orang-orang baik di sekeliling kita yang akan menemani dan membantu di kala badai menghadang,” terang Rafi.

Pada tim berikutnya, Muhammad Alif Ahsan menyampaikan tantangan yang mereka hadapi pada saat menjalani masa pemberkasan lomba adalah tentang bagaimana caranya menyusun argumentasi hukum yang tidak hanya logis dan terstruktur tetapi juga sesuai ketentuan hukum positif dan perkembangan praktik terkini.

Kepada para mahasiswa lain, Anang Fajri Perdana atau yang akrab disapa Anang turut berpesan, “Melalui lomba (legal opinion) semacam ini, teman-teman akan dilatih untuk menganalisa kasus secara mendalam, menyusun argumentasi hukum yang logis dan terstruktur, serta berlatih menyampaikan pendapat hukum secara profesional.”

“Ayo ambil kesempatan ini dan jadilah bagian dari generasi muda hukum yang kritis, kompeten, dan berintegritas!” pungkas Anang dalam wawancaranya. (FCP)

[KALIURANG]; Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Mahasiswa program studi hukum program sarjana, yaitu Dimas Saputra (23410348) dan Annisa Rahmadiani (23410646), berhasil meraih juara 2 dalam National Essay Competition 2025 Universitas Negeri Malang. Kompetisi kancah nasional ini diikuti oleh berbagai universitas di seluruh Indonesia dan terdapat kurang lebih 50 Universitas yang berlaga dalam ajang ini dan diikuti oleh 105 team. 

Dimas Saputra mengungkapkan motivasinya dalam mengikuti kompetisi esai tersebut. “Esai merupakan salah satu kompetisi yang membuat saya lebih lihai dalam menulis. Saya sadar bahwa menulis adalah salah satu keterampilan utama yang harus dikuasai oleh seorang mahasiswa hukum,” ujarnya. Ia menambahkan “Kami, saya dan rekan saya Annisa, memiliki visi dan misi yang sama, yaitu sama-sama ingin belajar dalam kepenulisan. Oleh karena itu, kompetisi esai ini kami jadikan sebagai wadah bukan hanya untuk merebut juara, tetapi bagaimana kami bisa belajar di setiap prosesnya. Learning by doing adalah kunci, karena teori tanpa praktik hanya fatamorgana.” ujar Dimas. 

Proses persiapan esai mereka dilakukan selama dua pekan dengan manajemen waktu yang terencana agar tidak bertabrakan dengan jadwal kuliah dan kegiatan lainnya. “Satu hari mereka gunakan untuk brainstorming ide, tiga hari untuk menyusun Bab 1, enam hari untuk menyusun Bab 2 (isi), termasuk pengumpulan dan visualisasi data, dan sisanya untuk pengerjaan Bab 3 serta lampiran.” ujar Dimas. Persyaratan untuk mengikuti kompetisi ini juga standar, meliputi pendaftaran, pengumpulan esai, dan beberapa dokumen pendukung lainnya.

“Senang dan tertantang adalah dua kata kunci yang menggambarkan perasaan kami pasca menjuarai kompetisi,” ujar Annisa. Perasaan senang muncul karena perjuangan mereka selama dua pekan terbayarkan dengan gagasan atau ide yang berhasil meraih juara. Di sisi lain, mereka merasa tertantang untuk terus meningkatkan keterampilan dan belajar, terutama dalam hal menulis. “Menulis bukan hanya tentang format, tetapi juga substansi yang dikemas dengan sistematis, terstruktur, dan komprehensif,” tambahnya.

Tantangan tentu selalu ada, namun Dimas dan Annisa berhasil mengatasinya dengan saling mendukung dan saling membantu. “Ini adalah event kesekian kalinya yang saya dan Annisa ikuti, dan di setiap event tentu tidak akan berjalan sesuai koridor yang telah kami konstruksikan dari awal. Masalah dan kendala adalah suatu keniscayaan, tetapi yang terpenting bukan masalahnya, melainkan solusinya,” terang Dimas. Komunikasi yang efektif menjadi penghubung utama dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul.

Dimas dan Annisa menyampaikan pesan inspiratif kepada seluruh mahasiswa, “Kalah bukan akhir, tapi awal.” Mereka menceritakan bahwa kegagalan tak jarang hadir menyelimuti perjuangan mereka. Namun, kegagalan tersebut justru mereka manfaatkan sebagai sarana introspeksi dan belajar. “Oleh karena itu, jangan pernah berhenti untuk terus berjuang, karena meskipun kamu tidak menjuarai perlombaan, sedikit banyak kamu pasti akan mendapat pengetahuan baru,” tutup mereka.

Prestasi yang diraih Dimas Saputra dan Annisa Rahmadiani ini menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar, kerja keras, dan kolaborasi yang solid dapat menghasilkan capaian yang luar biasa. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa UII lainnya untuk terus berkarya dan mengharumkan nama kampus. (YSHA)